Browsing Category culture

Tradisi Mengerikan Yang Terdapat Di Berbagai Belahan Dunia

by

berbicara soal tradisi memang tak akan ada habisnya,, meski sudah dilakukan sejak nenek moyang lahir, bahkan masih ada yang memperthankannya di era modren seperti ini. Jika tradisinya hanya sekedar mudik setiap lebaran saja sih nggak masalah ya guys!

Tapi apa jadinya jika suatu tradisi tersebut malah hal-hal yang nggak masuk diakal bagi kita semua yang hidup di era digital. Contohnya saja tradisi yang terjadi pada suku kayan, yang dimana mereka harus menggunakan gelang leher yang semakin bertambahnya usia akan semakin banyak gelang yang masuk keleher. Dan bahkan tradisi ekstream tersebut dibilang sebagai salah satu kecantikan pada suku tersebut. Aduhh seyeem ya guyss! mau cantik aja gitu banget_-

Namun yang namanya tradisi tetaplah tradisi, sesakit apapun akan dijalani. Yaa walaupun hanya suku pedalaman saja yang masih menganut pemikiran semacam itu. Bersyukurlah kita yang lahir dan tinggal di kota. Setidaknya kita tidak merasakan kesakitan seperti itu.

Nah bicara soal tradisi ekstream, berikut ini mimin akan memberi tau kepada kalian beberapa tradisi yang diluar batas normal dan bahkan bikin kita melongok. Dari pada penasaran yuk simak ulasan berikut.

 

Leher Panjang – Suku Kayan

Seperti yang sudah dijelaskan tadi bahwa suku yang satu ini memiliki tradisi yang cukup ekstream dalam melihat hal kecantikan. Di suku yang penduduknya mayoritas dari Myanmar ini terkenal dengan  adanya kumpulan besi-besi dengan warna emas yang di letakkan di leher mereka. Yang berguna untuk memanjangkan leher mereka. Mereka memakai seperti itu, karna dulunya telah terjadi konflik antara penduduk Myanmar dengan anggota militer di Myanmar. Yang sekarang membuat penduduk Myanmar hijrah ke Thailand. Dan sekarang leher panjang mereka itu, menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Biasanya kumparan / gelang kuningan tersebut di pasang ketika anak perempuan disana sudah berumur 5 tahun. Setiap bertambahnya umur mereka, maka kumparan tersebut di ganti menjadi yang lebih panjang. Pasti kalian bingung kenapa leher mereka tambang panjang? Sebenarnya leher mereka itu tidak bertambah panjang, tetapi karena berat dari kumparan tersebut medorong tulang selangka semakin turun yang kemudian menekan tulang rusuk.

Jika kumparan tersebut sudah di pasang di leher, maka kumparan tersebut tidak akan di lepas. Kecuali jika ingin di ganti dengan yang lebih panjang. Kalau mereka di tanya mengapa mereka melakukan hal seperti itu, pasti jawabannya supaya terlihat lebih cantik dan juga sebagai identitas dari penduduk disana.

Gigi Runcing – Suku Bagobo

Pasti kalian kira, orang-orang yang meruncingkan giginya adalah drakula, vampire, ataupun hewan buas. Tetapi berbeda dengan wanita yang ada di Suku Bagobo di Mindanao , di pulau paling Timur di Filiphina. Menurut wanita yang ada di suku Bagobo, tujuan mereka memiliki gigi runcing tidak untuk menakut-nakuti orang. Justru itu adalah cara mereka untuk menambah kecantikan mereka.

Meruncingkan gigi seperti itu memang memakan waktu yang cukup lama, karena mereka meruncinginya dengan cara di pahat menggunakan bambu atau kayu. Dengan meruncingi gigi seperti itu, mereka harus rela menahan rasa kesakitan. Seperti kata pepatah bilang, berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu, menjadi cantik kemudian.

Telinga Panjang – Suku Dayak

Di sebuah tempat yang berada di Kalimantan, dimana Suku Dayak tinggal. Untuk tampil cantik dari suku Dayak adalah dengan memiliki telinga panjang yang menjuntai hingga ke leher. Di suku Dayak, mereka sengaja memanjangkan telinga supaya terlihat keren, baik laki-laki ataupun perempuan. Tetapi ukuran panjang telinga antara laki-laki dan perempuan di buat berbeda.

Kalau kaum laki-laki disana, tidak boleh memanjangkan telinganya sampai lewat dari bahu. Sedangkan untuk yang kaum perempuan, mereka boleh memanjangkan telinga sampai sebatas dada. Tradisi memanjangi telinga dengan cara di tindik bagi kaum wanita ataupun pria yang ada di suku ini, dilakukan dengan cara memakai anting yang terbuat dari logam atau emas dengan jumlah yang terus menerus bertambah dan membuat telinga mereka semakin memanjang.

Memanjangi telinga sudah dilakukan sejak penduduk suku Dayak berumur 1 tahun. Anting di tambah setiap 1 tahun sekali. Untuk mengetahui berapa usia dari warga suku Dayak, kalian cukup menghitung berapa banyak anting yang di letakkan di telinga mereka. Anting yang di pakai pun berbeda-beda, yang bertujuan untuk menandakan perbedaan status dan jenis kelamin mereka.

Menurut masyarakat suku Dayak Kenyah, dengan memanjangi telinga mereka berfungsi sebagai identitas kemanusiaan mereka. Sejak abad ke- 21, masyarakat yang memiliki telinga panjang semakin berkurang. Kalau ada pun para lansia di atas 60 tahun.

Lip Plate – Suku Mursi

Ingin tampil cantik di Ethiopia, ada cara yang unik namun mengerikan ala Suku Mursi. Bagaimana tidak, mereka menilai kecantikan seorang wanita dari seberapa lebar ukuran mulutnya. Semakin lebar mulut seorang wanita, maka semakin cantiklah dia. Tradisi meregangkan bibir ini disebut “labret” atau “lip plate”. Dimana wanita di suku ini, mulai memperbesar ukuran mulutnya pada usia 13 hingga 16 tahun.

Cara yang dilakukan suku tersebut pastinya sangat sakit. Karena bibir bagian bawah di sobek sepanjang 1 sampai 2 cm, yang kemudian di masukkan piringan yang terbuat dari tanah liat berbentuk bulat ke dalam sobekan tersebut. Setelah 2 atau 3 minggu, piringan tersebut di ganti dengan ukuran yang lebih besar. Dengan diameter mencapai 10 sampai 15 cm, bahkan ada yang hingga 25 cm. Walau sakit, tradisi ini tetap harus dilakukan, karena bagi wanita yang menolak tradisi tersebut akan mendapatkan sanksi sosial.

Semakin besar piring yang ada di mulut para wanita suku Mursi ini, menandakan bahwa mereka memiliki daya tahan tubuh yang kuat, dewasa dan cantik. Tradisi yang sudah di lakukan secara turun-temurun.

Penutup Hidung – Suku Apatani

Suku Apatani merupakan suku yang tinggal di lembah Ziro di negara India Timur bagian Arunachal Pradesh. Disana, masih melakukan tradisi-tradisi yang di warisi bagi penduduk yang masih melekat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Menurut penduduk sana, perempuan yang ada di Suku Apatani terbilang cantik di bandingkan dengan suku lainnya, yaitu Suku Arunachal.

Saking cantiknya, mereka harus membuat diri mereka supaya tidak terlihat menarik di depan orang-orang. Dan juga untuk melindungi diri mereka dari suku lain yang ingin merebut kecantikan mereka. Dari sinilah Suku Apatani mulai memakai enutup hidung atau yang biasa mereka sebut Yaping Hillo. Yang terbuat dari potongan kayu yang berdiameter besar dan kemudian di masukkan di hidung mereka. Aksesoris berwarna hitam tersebut biasanya di pakai oleh sebagian besar wanita yang sudah tua dari suku tersebut. Semakin berkembangnya zaman, kebiasaan dari tradisi tersebut semakin menghilang.

Kaki Lotus – Cina

Kaki mungil seperti ini, awalnya hanya di lakukan oleh wanita keturunan bangsawan. Yang di anggap melambangkan keindahan dan kemakmuran. Kaki mungil tersebut di namakan dengan “Kaki Seroja“, yang di lakukan sejak anak berusia empat sampai tujuh tahun. Sebelum kaki anak kecil yang ada di Cina di masukkan ke dalam sepatu, kaki mereka akan di olesi dengan ramuan dari tumbuh-tumbuhan dan juga darah hewan.

Yang bertujuan supaya lemas dan kuku kakinya di potong sedalam mungkin. Kemudian semua jari-jari kaki akan di tekan sampai sejajar telapak kaki hingga tulang-tulangnya patah. Setelah jari kaki akan menempel dengan telapak kaki, kemudian di ikat kuat dengan kain dan di bengkokkan lagi sampai sejajar dengan tumit, lalu di lilit lagi dengan kain yang panjang.

Hasilnya nanti kaki akan tumbuh percis dengan sepatu yang di pakai dengan panjang 7-9 cm, karena telah menjalani proses selama 2 tahun. Gadis tersebut akan berjalan sangat perlahan-lahan dengan bertumpu pada tumit. Sehingga cara mereka berjalan pun seperti sedang berlenggak lenggok. Nah, gaya berjalan seperti ini yang di anggap menggemaskan dan seksi bagi para pria di Cina. Namun cacat dan infeksi yang di alami kaki ini menimbulkan bau busuk. Dan wanita di Cina pun ketika memakai sepatu mungil tersebut akan tetap mengenakan kaos kaki dan sepatu saat bercinta.

Memakai Korset Super Ketat – Amerika

Benda yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kamu. Yup! Korset adalah salah satu benda yang bikin pinggang menjadi kecil dan menjadi terlihat lebih langsing. Korset sudah nge-trend sejak abad 19. Tetapi, jika memakai korset yang sangat ketat denga waktu yang lama, akan mengakibatkan pinggang mengecil sampai-sampai tulang punggung patah. Dan ada juga dampak lain akibat pemakian korset yang ketat terlalu lama, yaitu menyebabkan tulang iga menjadi retak, kerusakan pada organ tubuh lain, dan juga gangguan pernapasan.

Sunat – Suku Mardudjara

Tradisi yang rutin di lakukan di Suku Mardudraja Aborigin di Australia, terbilang sangat mengerikan. Tradisi tersebut di lakukan dengan cara memotong organ intin laki-laki yang masih muda, yang berumur sekitar 14 sampai lima belas tahun. Mengapa terbilang ngeri, karena cara orang sana memotong kulit organ intim laki-laki muda tersebut hingga ke bagian scrotum.

Sebelum di sunat, laki-laki tersebut di tidurkan di dekat api unggun. Yang kemudian dada dari si laki-laki tersebut di duduki oleh kepala suku mereka dengan menghadap ke arah kemaluannya si laki-laki. Kemudian barulah kulit kemaluan bagian ujung dari laki-laki tersebut di potong dengan pisau yang sudah di baca mantra. Setelah siap di potong, sisa kulit kemaluan yang telah di potong, si kepala suruh menyuruh laki-laki tersebut memakan kulit tersebut tanpa di kunyah. Barulah laki-laki tersebut di bilang laki-laki yang sudah dewasa.

Seppuku – Jepang

Kata lain dari Seppuku disebut dengan Harakiri. Merupakan salah satu tradisi yang rutin di lakukan masyarakat Jepang setiap tahunnya. Seppuku atau Harakiri berasal dari kata “Hara” yang berarti “perut” sedangkan “Kiri” atau “Kiru” yang berarti “memotong“. Dulunya tradisi Harakiri ini dilakukan oleh para prajurit samurai sebagai tanda kesetiaan mereka terhadap negaranya.

Tradisi ini sama dengan bunuh diri yang dilakukan para prajurit Samurai. Karena dulu prajurit samurai tidak sabar menuggu ajal menjemput mereka. Makannya mereka memutuskan untuk merobek perut mereka, dan mengeluarkan isi-isi perutnya. Barulah prajurit tersebut bisa mati dengan tenang.

Sebelum melakukan Harakiri tersebut, prajurit Samurai (pasukan yang menggunakan pedang katana) harus melaksanakan ritual khusus sebelum melakukan ritual tersebut. Mereka harus mandi, memakai jubah putih, dan makan makanan favorit mereka (di manjakan dulu sebelum mati). Pelaku Harakiri harus di dampingi dengan seorang pelayan yang disebut “Kaishakunin” yang telah ia pilih sendiri.

Tugas dari Kaishakunin disini yaitu membukakan kimono atau jubah putihnya dan mengambilkan pisau atau pedang yang akan digunakan. Jika pelaku Harakiri menjerit atau menangis menahan rasa sakit saat ia menusuk dan mengeluarkan isi perutnya, hal tersebut di anggap sangat memalukan bagi seorang Samurai. Karena itu Kaishaku bertugas untuk mengurangi rasa sakit tersebut dan mempercepat kematian yaitu di lakukan dengan cara memenggal kepala si pelaku Harakiri.

Ikipalin – Papua

Suku Dani, merupakan suku yang tinggal di sebuah kota yang ada di Papua yang bernama kota Wamena. Yang terletak di pegunungan Cyclops Papua Barat. Sebagian besar masyarakat Suku Dani menggantungkan diri dengan cara bercocok tanam dan berternak babi. Mereka di pimpin oleh kepala suku yang di namai dengan Ap Kain. Disana ada sebuah tradisi yang aneh dan mengerikan, yaitu mereka memotong jari mereka sendiri.

Tradisi ekstrim ini di lakukan apabila ada salah satu anggota keluarga atau kerabat yang meninggal. Contohnya seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, adik, kakak, abang, dan lain sebagainya. Mereka memotong jarinya sendiri sebagai tanda rasa belasungkawa atas meninggalnya salah satu anggota keluarga mereka. Dan menjadi salah satu cara untuk mencegah supaya tidak terulang kembalinya malapetaka yang menimpa anggota keluarga mereka. Padahal jodoh, maut, dan lain sebagainya, sudah ada di tangan Tuhan.

”Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik” merupakan sebuah pedoman yang sudah mendasari hidup masyarakat Suku Dani untuk tetap bersatu, baik suka maupun duka. Pedoman tersebutlah yang menjadi dasar masyarakat suku Dani untuk memotong jari mereka. Itulah salah satu cara untuk berpartisipasi yang di lakukan oleh Suku Dani apa bila ada anggota keluarga yang meninggal.

Menurut masyarakat suku Dani, jari merupakan simbol kerukunan, kesatuan dan kekuatan yang ada dalam diri manusia maupun keluarga. Bentuk jari mereka yang berbeda-beda, menjadi salah satu simbol kekuatan mereka untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Kehilangan salah satu ruasnya saja, bisa mengakibatkan tidak maksimalnya kinerja tangan.

Ada beberapa cara untuk melakukan Tradisi ikipalin tersebut, yang pertama itu di mulai dari memilih senjata yang akan di gunakan, seperti pisau, kapak atau parang. Dan ada juga yang mengikat jari dengan tali sampai darah di jari tersebut berhenti. Baru setelah itu jarinya langsung di potong. Bahkan ada yang lebih mengerikan, yaitu dengan menggigit jari sampai putus.

Biasanya tradisi memotong jari tersebut di lakukan oleh kaum ibu-ibu. Semakin berkembangnya zaman modern, tradisi dari Ikipalin tersebut semakin menghilang. Masyarakat suku Dani sudah sangat jarang bahkan tidak pernah lagi melakukan tradisi ekstrim tersebut. Dan yang masih ada pun cuman sisa jari-jari yang sudah di potong dari masyarakat suku Dani yang banyak di jumpai oleh perempuan yang sudah tua atau nenek-nenek.

Menyetrika Payudara – Kamerun

Di Kamerun, tepatnya di Afrika Tengah memiliki tradisi yang sangat mengerikan yaitu mensetrika payudara perempuan yang masih remaja. Tradisi ini sudah di lakukan sejak ratusan tahun yang lalu. Yang bertujuan untuk menghindari terjadinya segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi pada remaja perempuan. Uniknya lagi, tradisi menyetrika payudara tersebut, di lakukan oleh ibu kandung mereka sendiri.

Sebelum di setrika, biasanya seorang ibu memanaskan sebuah batu atau suatu benda yang bisa menyimpan panas yang di bakar di atas bara. Setelah panas, payudara anaknya akan di setrika sampai rata. Jika mereka memiliki payudara yang rata, maka laki-laki pun pastinya akan kurang nafsunya ketika melihat perempuan tersebut. Tradisi ini di lakukan sebelum si anak masuk masa pubernya. Dan biasanya di lakukan saat anak sudah berusia 8 tahun.

Saat beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari, para gadis di pakaikan kemben sejenis bra yang terbuat dari bahan karet dan sangat ketat untuk meratakan si payudara tersebut. Pastinya si sang anak berpikiran, mengapa si ibu menyiksaku seperti ini? Padahal cara tersebut di lakukan karna tradisi yang sudah di lakukan secara turun-temurun oleh nenek moyang mereka.

Tradisi setrika payudara tersebut sudah menyebar di beberapa daerah yang ada di Kamerun dan juga beberapa negara di yang ada di Afrika hingga ke Inggris. Tetapi tradisi ini belum terlalu populer di dunia, itulah yang membuat informasi tersebut menjadi sikit. Karna semua warga disana malu ketika akan di wawancarai mengenai payudara mereka mengapa di setrika seperti itu.

Nah, itulah beberapa tradisi yang mengerikan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Yang namanya tradisi tetap harus di jalani. Tetapi kalau bagi warga biasa, jangan pernah coba-coba hal tersebut di rumah ya.. Don’t try this at home! Terima kasih..

No tags